Bolehkah Meminta Nafkah Anak Kepada Mantan Suami?

Diposting pada
loading...

BacaanKita – Ketika suami istri memutuskan mengakhiri pernikahan mereka, dan sudah selesai masa iddah bagi istri, status mereka sudah berubah menjadi mantan istri dan mantan suami.

Tetapi, tidak ada mantan anak, sehingga bagaimanapun, anak-anak tetaplah darah daging orang tua yang menjadi tanggung jawab orang tua mereka terlepas mereka nantinya tinggal bersama siapa.

Loading...

Hak mereka tidak terputus oleh perceraian kedua orang tua mereka. Karena hubungan anak dengan orang tuanya, tidak akan pernah putus sekalipun berpisah karena perceraian atau kematian.

Islam membebankan nafkah kepada laki-laki sebagai kepala keluarga. Di mana dia wajib menanggung semua kebutuhan anggota keluarganya, istri dan anak-anak.

Kewajiban seorang suami untuk memberi nafkah kepada keluarganya terdapat dalam kasus Hindun bersama suaminya, Abu Sufyan.

Abu Sufyan tidak memberikan nafkah yang cukup untuk Hindun dan anaknya. Kemudian beliau mengadu kepada Nabi saw. Saran Nabi saw:

خُذِي مَا يَكْفِيك وَوَلَدَك بِالْمَعْرُوفِ

“Ambillah harta Abu Sufyan yang cukup untuk dirimu dan anakmu sewajarnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw mengizinkan istri untuk mengambil harta suaminya di luar pengetahuan suaminya, karena suami tidak memberikan nafkah yang cukup bagi istri dan anaknya.

Ini menunjukkan bahwa dalam harta suami, ada bagian yang wajib diberikan kepada istri dan anak.

Ketika terjadi perceraian dan masa iddah sudah selesai, wanita yang dulunya menjadi istri, kini berubah status menjadi mantan istri.

Tali pernikahan sudah putus, bukan lagi suami istri. Sehingga dia tidak wajib dinafkahi oleh mantan suaminya.

Namun hak nafkah bagi anak, tidak putus, sehingga ayah tetap berkewajiban menanggung semua kebutuhan anak, sekalipun anak itu tinggal bersama mantan istrinya.

Imam Ibnul Mundzir mengatakan:

وَأَجْمَعَ كُلُّ مَنْ نَحْفَظُ عَنْهُ مَنْ أَهْلِ الْعِلْمِ , عَلَى أَنَّ عَلَى الْمَرْءِ نَفَقَةَ أَوْلادِهِ الأَطْفَالِ الَّذِينَ لا مَالَ لَهُمْ . وَلأَنَّ وَلَدَ الإِنْسَانِ بَعْضُهُ , وَهُوَ بَعْضُ وَالِدِهِ , فَكَمَا يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُنْفِقَ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ كَذَلِكَ عَلَى بَعْضِهِ وَأَصْلِه

“Ulama yang kami ketahui sepakat bahwa seorang lelaki wajib menanggung nafkah anak-anaknya yang masih kecil, yang tidak memiliki harta. Karena anak seseorang adalah darah dagingnya, dia bagian dari orang tuanya. Sebagaimana dia berkewajiban memberi nafkah untuk dirinya dan keluarganya, dia juga berkewajiban memberi nafkah untuk darah dagingnya.” (kitab al-Mughni).

Karena antara suami dan istri tidak lagi satu tempat tinggal, sementara masih ada anak yang menjadi tanggung jawab si ayah untuk menafkahkannya.

Maka tidak hanya boleh, bahkan mantan istri boleh menuntut mantan suaminya untuk menafkahi seluruh kebutuhan anaknya.

Jika mantan suami tetap tidak bersedia, mantan istri bisa menggunakan kuasa hukum untuk meminta hak anaknya.

Untuk para suami, anak yang dilahirkan itu merupakan anak dari darah dagingnya. Meskipun sudah bercerai dengan ibunya anak-anak. Tapi, kewajiban nafkah terhadap anak tetap berjalan.

Wahb bin Jabir menceritakan, bahwa mantan budak Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu pernah pamit kepadanya, “saya ingin beribadah penuh sebulan ini di Baitul Maqdis.”

Sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, langsung bertanya kepada beliau, “apakah engkau meninggalkan nafkah untuk keluargamu yang cukup untuk makan bagi mereka selama bulan ini?”

“Belum.” Jawab orang itu.

“Kembalilah kepada keluargamu, dan tinggalkan nafkah yang cukup untuk mereka, karena saya mendengar, Rasulullah SAW bersabda:

كفى بالمرء إثماً أن يضيع من يقوت

“Seseorang dianggap melakukan dosa, jika dia menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi.” (HR Ahmad  dan disahihkan Syuaib al-Arnauth)

Dalam riwayat lain dinyatakan,

إِنَّ الله سائل كل راع عما استرعاه: أحفظ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بيته

“Allah akan bertanya kepada setiap pemimpin tentang rakyatnya, apakah dia jaga ataukah dia sia-siakan. Hingga seorang suami akan ditanya tentang keluarganya.”(HR Ibnu Hibban  dan dihasankan oleh al-Albani)

Demikianlah, Semoga dapat bermanfaat

Sumber: bincangsyariah.com

Loading...